Ironis GTT dan PTT di Honor Dari Infak

Tangjungsari, Suaragunungkidul.com – Perhatian pemerintah terhadap GTT ( Guru Tidak Tetap ) dan PTT ( Pegawai Tidak Tetap ) sejauh ini masih belum ada terbukti di beberapa daerah di Gunungkidul masih ada GTT dan PTT yang mengandalkan hasil kerjanya dari infak murid di sekolah.

Mereka yang biasa disebut honorer memiliki peran penting di setiap lembaga pendidikan. Dalam setiap sekolah, terkadang jumlah honorer lebih banyak dibanding guru berstatus PNS. Otomatis kinerja honorer sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar dan mengajar.

Meski demikian, keberpihakan pemerintah pada GTT masih belum dirasakan oleh mereka terbukti selain hanya menerima honor kecil GTT dan PTT tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak bagi seorang tenaga pendidik.

Sumber dana untuk memberikan tunjangan kesejahteraan yakni dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) itupun sekolah tak diberi keleluasaan untuk mengalokasikan honor yang layak pada hal berhasil dan tidaknya sekolah terhadap pendidikan anak ada di pundak mereka.

Jumlah honor sekitar Rp. 200 ribu tak sebanding dengan kinerja selama satu bulan. Dilema tersebut terjadi hampir disetiap sekolah berstatus negeri. Menghadapi persoalan itu, lembaga pendidikan dituntut secara mandiri untuk mencari terobosan agar para honorer mendapatkan hak dan apresiasi yang lebih baik dari sisi finansial.

Seperti yang terjadi di SD Mentel 1, Desa Hargosari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul ini, sebanyak 8 honorer baik GTT maupun PTT juga hanya memperoleh insentif sebesar Rp. 200 ribu per bulan. Hal tersebut membuat seluruh elemen sekolah berfikir keras guna mencari solusi agar honorer mendapat tambahan penghasilan.

“Kami rapat dengan komuite sekolah berulang kali, akhirnya disepakati diadakan infak setiap hari jum’at. Sebagian besar dana infak yang terkumpul dipakai untuk tambahan honor GTT dan PTT,” terang Kepala SD Mentel 1, Kamijan, S.Pd, Jum’at, (15/9/2018).

Dijelaskan, setiap jum’at, siswa dikoordinir bendahara kelas mengumpulkan uang secara sukarela. Setelah terkumpul kemudian diberikan kepada guru pengelola untuk disampaikan ke komite sekolah.

“Dana yang terkumpul tiap jum’at sekitar Rp. 500.000-an. Kemudian dana diserahkan kepada komite. Setelah satu bulan komite menyerahkan kembali sebagian besar dana infak ke sekolah sebagai tambahan honor bagi GTT dan PTT,” jelas Kamijan.

Lebih jauh disampaikan, dana infak secara keseluruhan tidak dialokasikan sebagai tambahan honor GTT dan PTT, namun sebagian kecil disisihkan untuk kegiatan Idul Adha.

Menurutnya, dari dana infak, GTT mendapat tambahan antara Rp. 150 hingga Rp. 200 ribu. Sehingga jika digabung dengan honor yang berasal dari dana BOS, honorer memperoleh penghasilan sekitar Rp. 400 ribu tiap bulannya.

Kamijan mengaku terharu atas kesediaan wali murid memberikan tambahan uang setiap hari jum’at kepada anaknya agar dipergunakan untuk berinfak.

Komite sekolah, Wasino mengaku merasa turut bertanggungjawab atas suksesnya penyelenggaraan pendidikan di SD Mentel 1. Sehingga wali murid sepakat diadakan kegiatan infak jum’at yang dialokasikan untuk honor GTT dan PTT. Diharapkan dengan mendapat insentif tambahan, semangat dan keseriusan GTT tetap terjaga.

“Dari dana infak Jum’at yang terkumpul, sebanyak Rp. 1.600.000 dialokasikan untuk tambahan honor guru,” rinci Wasino.

Sementara itu, salah satu GTT, Bayu Duwi Nurcahyani menyampaikan terimakasih telah mendapat perhatian dan dukungan dari komite dan wali murid. Saat ini sejak program infak jum’at tersebut berjalan dirinya mendapat honor Rp. 400 ribu tiap bulan.

“Semoga segera ada perhatian serius dari pemerintah,” harapnya. ( Red/ Wawan )