Pantai Ngrumput menawarkan kemping seru dan sunset keren dari atas bukit

Gunungkidul, suaragunungkidul.com,-Kosakora merupakan bukit yang menarik yang menawarkan keindahan padang rumput dan cantiknya matahari terbenam sekaligus mendirikan tenda. Datang ke Kosakora, traveler sekaligus bisa menikmati bermain-main di Pantai Ngrumput yang ada di bawahnya

Hari sudah sore, namun mentari belum berniat pulang ke peraduan ketika rombongan saya tiba di Bukit Kosakora. Hal pertama yang kami lakukan ketika kaki sampai di sini, adalah meletakkan tas di atas padang rumput bukit yang miring lantas rebahan sejenak. Kami kelelahan, jarak parkir hingga menuju bukit ini lumayan menyita banyak tenaga.

Saya mencoba mengedarkan pandang ke sekeliling, hijaunya padang rumput, dipadu pagar kayu yang seolah menjadi batas dengan lautan adalah bagian menarik dari tempat ini. Hanya pagar kayu biasa sebetulnya, yang penyusunannya pun tak rapi. Namun justru pagar ini seperti mampu menyeimbangkan antara laut dan bukit. Membuat Bukit Kosakora khas, ikonik, dan cukup artistik. Ya, kesederhanaan kadang memang justru membuat segalnya lebih menarik

Kami lantas bergegas naik, buru-buru mendirikan tenda di camping ground, agar secepatnya kami bisa kembali lagi ke padang rumput guna menikmati momen andalan Bukit Kosakora: mengawal mentari pulang ke singgasananya.

“Lihat nih! Aku kan dukung kamu sebagai penulis,” ujar Nana, sepupu saya sembari menunjukkan buku antologi yang di dalamnya ada salah satu karya saya. Buku itu baru masuk pre-order ketika itu, saya saja sebagai penulisnya malah belum mendapatkan kiriman buku tersebut. Tapi Nana rupanya sudah lebih dulu order.

Sebagai penulis yang tidak terkenal dan belum banyak karya, saya sangat terharu. Saya tidak pernah memintanya membeli buku saya, tapi itu bocah kebangetan memang baiknya.

Selanjutnya yang terjadi adalah buku saya menjadi objek foto. Semburat jingga yang mulai hadir menggores langit dan lautan menjadi backgroundnya. Sebuah kebetulan, karena buku antologi saya judulnya juga berbau senja. ‘Senja Terakhir’ tepatnya. Tapi tentunya semoga kebersamaan kami semua menikmati senja di Bukit Kosakora hari itu bukanlah yang terakhir.

Menginjak malam, area camping ground sudah penuh dengan tenda. Namun dari semua tenda hanya tenda kami yang berisik. Hanya tenda kami yang membuat api-apian, bakar-bakaran lantas menikmati malam hingga larut sembari memetik gitar dan bernyanyi. Bukankah kenikmatan camping memang terletak di momen-momen seperti ini? Jadi kenapa tenda-tenda yang sepenglihatan saya tadi banyak pasangan muda-mudinya harus buru-buru menutup tenda dan mematikan penerangan? Ah, mungkin mereka kelelahan, batin saya berusaha mikir positif. Dan mungkin juga mereka ingin menikmati suara kami yang genjrang-genjreng hingga sekitar pukul 12 malam.

Untuk urusan tidur, tim kami yang berjumlah 9 orang menggunakan dua tenda pinjaman yang ternyata setelah digunakan satu tenda hanya muat 3 orang. Lantaran perempuannya 6 orang, tenda kapasitas 3 dipaksa muat 4 orang. Sisanya, saya dan Nana memilih menggelar sleeping bag di depan tenda sembari menggunakan selimut. Tidak terlalu buruklah, setidaknya kami bisa melihat jelas bintang gemintang yang amat sangat banyak di langit. Bahkan saya sempat melihat 2 kali ada bintang jatuh. Pantas saja saya pernah membaca bahwa Kosakora adalah tempat yang ideal untuk mereka yang gemar photography milky way, bintang di sini serasa lebih dekat dan lebih banyak.

Asal-muasal bukit Kosakora

Mengobrol dengan pemilik warung di saat harus antre kamar mandi, saya mendapat cerita bahwasanya nama Kosakora bukanlah nama asli dari bukit ini. Kosakora merupakan nama pemberian sekelompok orang pecinta alam yang datang kemari. Dulunya, Bukit Kosakora lebih dikenal sebagai Bukit Ngrumput karena dulu orang suka mencari rumput untuk pakan ternak di tempat ini.

Menurut beberapa sumber, nama Kosakora diberikan oleh sekelompok pecinta alam lantaran mereka ketika kemping di sini kehabisan bekal dan hanya tersisa kertas koran. Kosakora dijadikan singkatan dari kalimat ‘koran sak lembar kopi ora ono’. Yang kalau di-Indonesia-kan berarti koran satu lembar, kopi tak ada. Sejak saat itulah. Bukit ini kemudian diperkenalkan dengan nama Bukit Kosakora.

Asiknya Pantai Ngrumput

Mendatangi Kosakora, rasanya menjadi pilihan paket wisata komplit. Tak hanya mendatangi bukit, kemping, melihat laut dari ketinggian serta melihat sunset. Mendatangi Bukit Kosakora traveler sekaligus bisa menikmati bermain-main di Pantai Ngrumput yang ada di bawahnya.

Masih menurut penuturan pemilik warung, karena Bukit Kosakora sebelumnya dinamakan Bukit Ngrumput, itulah kenapa kemudian pantai ini disebut pula dengan Pantai Ngrumput

Pantai berpasir putih ini lumayan luas, ada beberapa warung, dan tersedia ring voli yang bisa dimanfaatkan traveler untuk olahraga voli pantai. Pun kalau mau foto-foto, Pantai Ngrumput juga menyediakan figura bunga yang bisa dijadikan background foto di Pantai Ngrumput. Buat traveler yang mungkin malas naik-naik ke Bukit Kosakora, pantai ini juga bisa jadi alternatif untuk mendirikan tenda.

Nah, bagaimana, kira-kira kamu punya agenda mau kemping di Gunungkidul tidak? Kalau iya, mungkin bisa dicoba kemping di Bukit Kosakora maupun Pantai Ngrumput.

sumber detik.com