Puluhan Ribu Warga Gunungkidul Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Wonosari,Suaragunungkidul.com – Masih ada sekitar 20.000 rumah tidak layak huni (RTLH) di Gunungkidul, Yogyakarta.

Tetapi, jumlah rumah yang mampu diperbaiki hanya sebagian kecil saja. Selain karena anggaran pemerintah terbatas, program bedah rumah juga harus memenuhi kriteria tertentu.

Salah satu rumah yang belum tersasar bantuan yakni Bustari (70) Dusun Gunungkrambil, Desa Sidorejo, Kecamatan Ponjong.

Rumah berukuran 6×9 meter tersebut berdinding anyaman bambu yang telah rusak termakan rayap. Selain itu, atap yang sebagian besar dari potongan bambu juga sudah lapuk termakan usia.

Bahkan, lantainya sebagian diantaranya masih berupa tanah.

“Sudah puluhan tahun saya tinggal di sini, kondisinya ya seperti ini,” kata Bustari saat ditemui di rumahnya Minggu (21/10/2018).

Bapak tiga orang anak itu mengaku pasrah dengan kondisinya itu. Anaknya juga memiliki kondisi perekonomian yang belum begitu baik, sehingga belum bisa membantu orang tuanya.

“Kondisi seperti ini ya tidak apa-apa. Karena belum mempunyai biaya ya sementara kami hanya pasrah,” ujarnya.

Kepala Dusun Gunungkrambil, Desa Sidorejo, Fitri Cahyanto mengaku di wilayahnya masih tercatat sebanyak 33 rumah yang tidak layak huni.

Menurutnya, dana desa tidak cukup untuk menopang biaya perbaikan rumah warga.

Adapun kategori rumah tidak layak huni yakni berdinding anyaman bambu, lantai masih tanah, dan dinding sudah lapuk.

“Masih ada sekitar 33 rumah yang tergolong tidak layak huni. Kami terus berupaya mencari solusi agar warga segera mendapatkan bantuan bedah rumah. Jika ada warga yang perekonomiannya baik, bisa membantu ya diterima, atau donatur dari siapa pun kami terima,” katanya.

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2018, Banteng Muda Indonesia (BMI) bekerjasama dengan DPC PDIP Gunungkidul melaksanakan kegiatan gotong royong bedah rumah.

Kegiatan itu menyasar rumah tidak layak huni yang belum tertangani oleh bantuan pemerintah maupun dana desa.

“Kami membantu warga yang masih tinggal di rumah hunian yang tidak layak. Dan rumah milik Pak Bustari ini salah satu contoh rumah yang belum tersasar oleh bantuan pemerintah. Ini kami lakukan bedah rumah secara gotong royong supaya menjadi baik,” kata Ketua DPC PDIP Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPR) Gunungkidul Eddy Praptono mengatakan, ada sekitar 25.000 rumah tidak layak huni di Gunungkidul.

Sejauh ini sudah sekitar 6000 rumah diperbaiki. Sementara, tahun ini, sedikitnya ada 650 ditangani.

“RTLH di Gunungkidul sekitar 25.000, setiap tahunnya program tersebut ada kuota sekitar 500-600 unit,” katanya.

“Sebanyak 500 rumah diperbaiki menggunakan dana pusat, sementara sisanya 150 rumah diperbaiki menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Gunungkidul,” ucapnya.

Dia mengatakan, Kriteria RTLH ada beberapa hal. Mulai dari dinding tembok atau anyaman bambu, kondisi atap, dan bagian lantai masih beralaskan tanah.

Setiap penerima sasaran masing-masing mendapat Rp 10 juta, selanjutnya swadaya. Oleh karena itu, penerima bantuan juga memiliki kewajiban dalam menyelesaikan proses perbaikan. ( Red/Kompas ).

Sumber : Kompas.com