Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pengajar, Balai Bahasa Sosialisasikan Jejaring Kemitraan Pengajar BIPA.

 

Palangka Raya,Suaragunungkidul – Hampir seabad lamanya bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional sejak dikukuhkannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan menjadi bahasa negara sejak diundangkannya UUD tahun 1945. Kini bahasa Indonesia semakin mengukuhkan diri sebagai sebagai jati diri, pemersatu, sarana komunikasi modern dalam peradaban serta perkembangan sains dan teknologi.

Seiring dengan makin terbukanya kerja sama antarbangsa dalam pergaulan internasional, bahasa Indonesia pun semakin terbuka untuk menjadi bahasa internasional. Oleh karena itu, sesungguhnya bukan hanya orang Indonesia yang harus belajar bahasa asing. Orang asing pun mesti belajar bahasa Indonesia. Terutama orang asing yang menjadi pekerja (ekspatriat) di Indonesia.

Sejalan dengan itu, pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing mestinya menjadi suatu keniscayaan. Berkenaan dengan itulah, Balai Bahasa Kalimantan Tengah, menggelar Sosialisasi Jejaring Kemitraan Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada Selasa, 18 Desember 2018 di Hotel Luwansa, Jalan G. Obos Palangka Raya. Kegiatan yang bertema “Jejaring BIPA Kuat, Bahasa Negara Bermartabat” ini diiikuti 30 peserta dari berbagai instansi, seperti Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kalteng, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kota Palangka Raya, Kantor Imigrasi, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, SMA, Perguruan Tinggi,dan berbagai lembaga kursus di kota Palangka Raya.

Kepala Balai Bahasa Kalimantan Tengah Drs. I Wayan Tama, M.Hum. melalui Kasubbag Tata Usaha, Dra. Sunik Andayani dalam pembukaannya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya mengaktifkan Program BIPA di Kalimantan Tengah yang telah beberapa tahun terhenti dan direncanakan dapat aktif kembali pada 2019.

“Berkaitan itu, kami menggandeng mitra kerja untuk membuat jejaring pelaksanaan Program Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Jejaring seperti lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, dinas-dinas, dan lembaga kursus yang memiliki para praktisi ahli di berbagai bidang dan memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa asing tentu bisa diberdayakan untuk mengajarkan bahasa Indonesia bagi penutur asing. Dalam kegiatan ini Balai Bahasa akan menjalankan fungsinya, yakni mengkaji materi, memfasilitasi, melayani, dan bekerja sama dalam pengajaran BIPA,” tuturnya.

“Berkaitan dengan hal itu, sebenarnya terbuka peluang untuk lembaga pendidikan dan lembaga kursus untuk membuka pendidikan atau kursus bahasa Indonesia untuk orang asing yang berada di Kalimantan Tengah ini. Apalagi, kehadiran ekspatriat yang juga kian lama semakin banyak dan memerlukan bantuan berkaitan dengan kewajiban perusahaan yang memperkerjakan orang asing harus memfasilitasi mereka belajar berbahasa Indonesia.”

Paparan materi pertama disampaikan oleh peneliti Balai Bahasa Kalteng, Yohanes Tri Nugroho yang sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan ini. Ia menyampaikan sosialisasi jejaring kemitraan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Menurutnya, UU No. 24 Tahun 2009 telah memberikan arah untuk semakin mengukuhkan bahasa Indonesia semakin diutamakan pemakaiannya di negeri sendiri. Bahkan, semakin terbuka peluang untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional.

“Salah satu isu kebahasaan adalah menderas adalah banyaknya penggunaan bahasa asing di tengah upaya pengutamaan bahasa Indonesia. Nah, dengan jejaring kemitraan pengajar BIPA sesungguhnya akan mengarahkan orang asing juga harus mempelajari bahasa kita. Dengan demikian, bahasa Indonesia untuk semakin menginternasional. Apalagi, saat ini tercatat sudah 45 negara yang tertarik untuk mempelajari bahasa Indonesia,” katanya.

“Balai Bahasa dalam BIPA ini adalah menjalankan peran regulasi, yakni menurunkan kebijakan untuk melaksanakan program. Peran fasilitasi, yakni memberikan bantuan teknis kepada kepada pihak yang memerlukan bantuan pembelajaran bahasa Indonesia. Lalu, peran koordinasi adalah menjalin sinergi antar pemangku kebijakan, seperti instansi terkait. Dengan demikian, Pengajaran bahasa Indonesia untuk orang asing menjadi suatu keniscayaan. Apalagi, Perpres No. 20 tahun 2018 sudah mengamanatkan bahwa tenaga kerja asing (TKA) harus bisa berbahasa Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Staf Bidang Diplomasi Kebahasaan Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sri Nurasiawati, M.Pd., dalam paparan Jejaring Kemitraan BIPA menuturkan tentang pentingnya bahasa Indoneisa diajarkan kepada orang asing.

“Selain semakin banyak dipelajari oleh orang asing, bahasa Indonesia akan semakin bermartabat di kancah internasional, minimal di tingkat ASEAN. Kedudukannya sebagai bahasa negara di negeri sendiri juga semakin kokoh karena ditingkatkan penggunaannya dalam ranah pekerjaan, pendidikan, dan pelayanan publik tingkat internasional di Indonesia,” ujarnya optimistis.

“Pada tahun 2018 ini telah tercatat ada 134 lembaga kursus yang memberikan pelayanan belajar berbahasa Indonesia di 22 negara dengan 122 pengajar dan 17.567 pemelajar. Jumlah ini merupakan tertinggi dibandingkan dengan tahun 2015, 2016, dan 2017. Tentu ini sangat menggembirakan dan semakin membuka peluang dari berbagai kalangan untuk menjadi pengajar BIPA. Semua punya kesempatan asalkan memenuhi syarat, memiliki kompetensi dan komitmen, serta lulus seleksi,” tambahnya berpromosi.

Pembicara terakhir, Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Palangka Raya, Dra. Alifiah Nurachmana, M.Pd., menguraikan tetang Pengembangan Bahan Ajar BIPA.

“Tahun 2019 BIPA baru mau masuk kurikulum. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan materi BIPA yang sesuai yang memenuhi syarat kebaruan, bervariasi dan menarik. Bahan ajar harus membangkitkan percaya diri, tertarik untuk terlibat, dan memungkinkan pemelajar untuk memperoleh hal yang diajarkan, “ papar dosen senior PBSI UPR ini.

“Pengembangan materi ajar BIPA juga harus bervariasi, terintegrasi dengan bidang lain, dan bergradasi. Materi juga mesti memperhatikan aspek bahasa dan budaya lokal. Dengan demikian, unsur komunikatif juga harus diperhatikan,” imbuhnya.

Dialog hangat dan menarik pun mengemuka. Beberapa komentar, saran dan harapan pun dicetuskan. Perwakilan dari berbagai instansi seperti Disnakertrans, Disparekraf, dan Kantor Imigrasi, serta lembaga pendidikan mengemukakan pemikirannya.

“Tentu harus ada aksi setelah sosialisasi. Tidak bisa tidak bahwa keharusan orang asing yang bekerja di daerah ini atau di negeri ini mesti belajar berbahasa Indonesia. Itu sudah ada aturannya. Namun, pelaksanaannya masih jauh dari maksimal. Nah, Balai Bahasa bersama jejaring kemitraan mesti segera melaksanakan aksinya agar bahasa Indonesia memang dipelajari dan digunakan oleh para ekspatriat atau tenaga kerja asing. Perusahaan harus menyediakan tempat dan waktu untuk mereka belajar bahasa Indonesia karena itu sudah ada aturannya,” ucap perwakilan dari Disnakertrans Kalteng, Henry Lubis, sangat berharap.

Memungkasi kegiatan sosialisasi, panitia membagikan paket buku panduan materi ajar BIPA kepada lima peserta mewakili beberapa intansi dan lembaga pendidikan. Semoga jejaring kemitraan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing kian mengukuhkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang bermartabat, baik di negeri sendiri maupun di kancah dunia internasional. Yakinlah! (Red/L.J.)