Retribusi Wisata Gunungkidul masih Amburadul, Butuh Perhatian Serius Dari Pemerintah.

 

Wonosari, Suaragunungkidul.com-Penarikan retribusi di tempat wisata di Gunungkidul masih dibilang amburadul. Bagaimana tidak, tempat-tempat wisata yang sudah mulai ramai pengunjungnya justru dimanfaatkan oleh oknum atau calo yang akhirnya merugikan dan membuat kapok para wisatawan untuk datang ke Gunungkidul. Jika pemerintah daerah tidak tegas, jelas fisi dan misi Kabupaten Gunungkidul akan sulit tercapai.

Dari pantauan di lapangan, Destinasi wisata yang sudah ramai, diantaranya Goa Pindul, yang terletak Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Wisata yang sudah tidak asing lagi ini, disetiap pintu ada petugas dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Gunungkidul. Pun demikian karena ulah calo atau biasa disebut joki, akhirnya penarikan retribusi tidak akurat, yang berakibat pendapatan tidak maksimal. Lantaran petugas hanya menerima laporan dari calo tersebut tanpa mengechek jumlah pemumpang dalam bus atau mobil. selain itu, melalui calo uang retribusi diberikan kepada petugas dengan terburu-buru dan terkesan semaunya.
Anehnya lagi, petugas pun langsung menerima tanpa mengechek jumlahnya penumpang. Tidak sampai disitu saja, tiket retribusi juga tidak langsung diberikan pada saat itu, alasan petugas tiket menyusul, akan diberikan nanti setelah tiba di lokasi wisata.

“Nanti orangnya (calo) akan kembali lagi kesini mengambil tiket,” ujar Rudi Susanto petugas dari Dispar Kabupaten Gunungkidul, Selasa, (01/01/2019).

Disinggung kenapa tidak langsung diberikan tiketnya, karena jika dicek satu persatu, dan langsung diberikan tiket, petugas pokdarwis akan marah-marah dan yang menjadi korban petugas penarik retribusi.

“Pernah Pokdarwis pada nggeruduk kesini, kursi pada dilemparin, jadi kita yang jadi korban,” ujarnya.

Selain itu, jika pihaknya mendisiplinkan justru calo akan mengalihkan bus atau mobil pribadi dijalan tikus, menghindari pembayaran tiket retribusi.

“Karena disini masih banyak jalan tikus yang bisa dilewati bus,” tambahnya.

Selain di Goa Pindul, lain lagi wisata di Pantai Watu Kodok yang terletak di Dusun Kelor, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Ditempat wisata ini dikeluhkan banyak wisatawan. Bambang Widodo, misalkan, wisatawan asal Ngawi, Jawa timur ini mengeluhkan beberapa hal ketika berlibur bersama keluarga dan saudara-saudaranya yang berjumlah 15 orang untuk menikmati keindahan Pantai Watu Kodok.

Diungkapkan Bambang, selain harus membayar tiket masuk Rp 10.000,-/orang, biaya parkir dikenakan kurang lebih sekitar Rp. 3.000,00,- untuk sepedah motor, dan untuk mobil sekitar RP. 5.000,00,-.

Masih dibebani biaya tambahan Rp. 5.000,- per orangnya ketika mendirikan tenda di pinggir pantai.

“Biaya tambahan segitu, tendanya punya kita sendiri, jadi harus mengeluarkan kocek Rp. 150.000,- karena kita berjumlah 15 orang,” keluh Bambang, (02/01/2019).

Masih diceritakan Bambang, jika tendanya menyewa ke pengurus setempat harus bayar Rp.50.000,00,- Belum lagi jika duduk di Gazebo yang ada ditempat itu, ia juga harus bayar lagi.

Selain itu, fasilitas toilet umum juga diwajibkan mengontrak, Rp. 150.000,00,- untuk 15 orang.

“Jadi mau ke toilet ataupun tidak harus bayar segitu,” ujarnya kesal.

Belum lagi masalah parkir, sambungnya, ia harus bayar dua kali, dengan alasan karena menginap. Namun ketika disuruh memberikan tiketnya, petugas tidak mau memberikan.

“Kita membawa rombongan kesini bermaksud liburan ke pantai yang biayanya murah, eh malah harus merogoh kocek cukup besar, karena apa-apa harus membayar,” keluh dia.

Ditambahkan Bambang, kalau ditempat yang lain juga seperti ini caranya, saya akan pikir lagi kalau mau datang ke Gunungkidul.

Tidak tertibnya pembayaran tiket retribusi dan masih adanya keluhan wisatawan, Pemda sudah sewajarnya mulai tegas untuk membenahi para calo atau oknum yang bermain. Jika fisi dan misi Gunungkidul akan tercapai, namun jika tidak, tidak menutup kemungkinan harapan Bupati Gunungkidul untuk menjadikan Gunungkidul daerah tujuan wisata yang berbudaya, maju dan mandiri akan semakin jauh dari angan-angan. Jumlah kunjungan wisatawan akan semakin berkurang seperti pada saat ini, yang akhirnya semua akan dirugikan.

(Joko)