Pemilu 2019 Lebih Rumit KPU Diminta Lebih Aktif Bersosialisasi ke Masyarakat.

 

Nglipar,Suaragunungkidul.com – Pemilihan umum serentak tinggal beberapa bulan lagi akan di gelar namun jauh – jauh hari Calon legislatif sudah mulai tebar pesona bahkan mengumbar janji agar mendapat simpati masyarakat supaya bisa duduk di kursi empuk anggota dewan.
Begitupun dengan penyelenggara pemilu di semua tingkatan sudah mulai sibuk dengan agenda masing – masing namun ada satu hal yang menjadi sorotan dari beberapa Calon legislatif yang bulan April 2019 bakal ikut serta mengadu nasib menjadi wakil rakyat yaitu belum adanya sosialisasi langsung ke masyarakat oleh Komisi Pemilihan Umum terkait tata cara dan warna juga berapa lembar kertas yang bakal di terima calon pemilih untuk di bawa masuk ke dalam bilik.
Kritikan dan harapan datang dari politikus senior Gunungkidul dari Partai Golkar yang saat ini masih menjabat anggota DPRD Provinsi DIY Slamet, SPd, MM dalam rilies yang di terima redaksi Suaragunungkidul.com 23/01/2019 Slamet menyoroti belum adanya sosialisasi dari KPU bagaimana tata cara penyoblosan dan warna kertas suara untuk masing – masing calon di masing – masing tingkatan. Slamet juga kwatir dengan aturan yang digunakan sekarang proposional terbuka tidak menghasilkan wakil rakyat yang benar2 bisa bekerja karena masyarakat akan kesulitan menghafal warna kertas suara dan akhirnya hanya memilih gambar partai politik peserta pemilu sehingga merugikan rakyat dan caleg yang sudah berjuang dan perduli ke masyarkat.
“Walau undang undangnya sudah mengatur dengan sistem proporsional terbuka dengan suara terbanyak,memungkinkan caleg dengan nomor berapapun tak masalah,yang penting dipilih rakyat dan mendapatkan suara terbanyak,jika partainya mendapatkan kursi maka yang bersangkutan berpeluang duduk di kursi legislatif,” terangnya.
Atas dasar itu Slamet,SPd,MM berharap KPU mensosialisasikan cara mencoblos dan kertas suara yang mirip dengan milik KPU dibagikan kemasyarakat lebih dulu sehingga calon pemilih jauh – jauh hari sudah bisa mempelajari terlebih dahulu dan mengetahui calon yang bakal mereka pilih,sehingga kecenderungan memilih partai bisa diminimalkan
“Maka KPU perlu melakukan sosialisasi  dengan cara dibagikan contoh surat suara terlebih dahulu sebelum pemilihan, agar sebelum pencoblosan mereka sudah mengerti, sosialisasi ini kalau bisa disertakan foto meski yang asli nanti tidak ada fotonya, tapi setidaknya mereka kenal caleg ini jadi sudah terekam gitu,” harap Politikus asal Nglipar tersebut.
Slamet kwatir karena cara mencoblos yang begitu rumit karena terlalu banyak kertas suara yang harus di bawa pemilih akan menggunakan cara lebih cepat dan gampang dengan langsung mencoblos gambar partainya.
“Tingkat kerumitan pemilu serentak menjadikan beberapa surat suara yang harus dicoblos, maka ada potensi orang lebih merasa sudah lah pilih partainya aja. Dengan tingkat rumit itu orang malas cari nama calegnya, tapi potensi langsung cari partai saja untuk dicoblos,  menjadi alternatif,” tutup Slamet.(wawan)