Pasien Keluhkan Pelayanan RSUD Wonosari, Begini Jawaban Pihak Rumah Sakit

Wonosari, suaragunungkidul.com-Keluhan pasien RSUD Wonosari sempat viral di media sosial (medsos). Pasien Gita Sicemplon yang mengunggah curhatannya di info cegatan jogja (ICJ) 12 Desember 2018 lalu meyayangkan pelayanan pihak RSUD Wonosari dalam memberikan pelayanan pada saat istrinya melahirkan anak pertama yang akhirnya sampai meninggal.

“Sedikit cerita kita ambil hikmahnya…,” awal Gita Sicemplon mengunggah di ICJ.

Tanggal 3 Desember kemarin, lanjut dia, ia akan menerima anak pertama di salah satu RS wonosari (RSUD Wonosari).

“saya bawa ke Rumah Sakit tanggal 3 Desember, itu karena aturan rujukan, dan kontrol terakhir tanggal 1 Desember pun semua baik baik saja,” katanya.

Selidik punya selidik ternyata pasien yang melahirkan itu berinisial Pr (22) warga Dusun Bareng 003/008, Desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari

Setelah diperiksa 3 Desember pagi, istrinya tidak ada keluhan atau tanda-tanda akan melahirkan, ternyata air ketuban tinggal sedikit tetapi semua normal dan detak jantung bayi pun normal, dan harus dirawat inap.

Untuk mempercepat pembukaan sampai dipacu dengan balon hingga anak pertamanya lahir. Namun pada saat lahir bayi tidak langsung menangis, yang akhirnya setelah mendapatkan perawatan selama 5 hari, bayi tersebut meninggal.

Lantaran anak pertamanya meninggal inilah yang memicu kekecewaan pasien Gita Sicemplon. Disebutkan, penyebab kematian anaknya karena keterlambatan penanganan hingga sampai minum air ketuban.

Sementara itu pihak RSUD Wonosari ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pasien atas nama Pr yang mau melahirkan pada tanggal 3 Desember saat itu. Namun pihak RSUD membantah bahwa penyebab kematian jabang bayi lantaran minum air ketuban.

Karena ketidaktahuan masyarakat, sehingga seakan bayi yang meninggal itu karena minum air ketuban, padahal tidak,” ujar Nyoman Yani Asih, selaku Kepala Ruang Kamar Bersalin, RSUD Wonosari,

Menurut dia, pihaknya dalam penanganan persalinan sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di RSUD Wonosari.

Diakui Nyoman, pasien baru masuk ruang bersalin dari poli kandungan tanggal 3 Desember 2018 pukul 13.30 WIB. DPJP dr Achmad Suparmono, SpOG dengan diagnosis dari poli G1P0A0 hamil postdate BDP pro induksi persalinan.

Maksudnya BDP itu, jelas Nyoman, hamil pertama telat perkiraan, telat 3 hari belum ada tanda-tanda persalinan. Terkait dengan dipasangkan alat pacu balon, karena menurut hasil pemeriksaan medis bayinya kuat untuk dipacu. Sehingga alat tersebut dipasang selama 12 jam, untuk evaluasi.

“Pada saat itu, bayinya sehat, ibunya juga sehat,” ujarnya

Kemudian, lanjutnya, dilakukan upaya hingga bayinya lahir, namun memang tidak bisa langsung menangis. Setelah mendapatkan perawatan selama 5 hari bayi tersebut meninggal.

Menurut analisa dokter, tambahnya, meninggalnya bayi itu karena asfiksia berat.

“Pada saat lahir tidak segera menangis, jadi bukan karena minum air ketuban,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pengertian Asfiksia dari kata asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. Asfiksia kegagalan bayi baru lahir untuk bernapas secara spontan dan teratur sehingga menimbulkan gangguan metabolisme tubuhnya dan dapat mengakibatkan kematian.(Joko)

Open this in UX Builder to add and edit content