Desa Katongan,Mengembangkan Industri Lidah Buaya Sebagai Makanan dan Minuman Sekaligus Wisata Edukasi

Nglipar, Suaragunungkidul.com-Salah satu industri pengolahan hasil pertanian yang sekarang sedang marak dikembangkan di Dusun Jeruk Legi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar
adalah industri pengolahan komoditas lidah buaya, yang dibuat berbagai macam produk. Komoditas lidah buaya ini sangat prospek untuk dikembangkan karena permintaan pasar terhadap komoditas tersebut semakin meningkat. Selain sebagai industri makanan dan minuman ternyata juga bisa sebagai wisata edukasi minat khusus.

Allan Efendhi (31) warga Jeruklegi Katongan Nglipar berhasil mengolah tanaman lidah buaya menjadi minuman kemasan dan berbagai makanan ringan.

Dituturkan Allan, bahwa untuk mengembangkan produk dari tanaman lidah buaya ini melibatkan
Ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Saat ini sudah ada 100 orang ibu-ibu yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Karena menurutnya, pengembangan agribisnis lidah buaya ini memiliki prospek sangat bagus dilihat dari segi keterlibatan masyarakat dan manfaat yang ditimbulkannya.

Diantaranya, lanjut dia, bisa mendorong tumbuhnya industri pedesaan sehingga dapat memperluas lapangan kerja di pedesaan yang akhirnya ada nilai tambah bagi masyarakat dari segi ekonomi.

Allan juga menjelaskan bahwa tanaman lidah buaya atau tanaman Aloevera ini bisa dibuat beraneka-ragam produk dari mulai makanan dan minuman, bahan baku kosmetika, dan bahan baku obat-obatan.

“Selain bisa dibuat minuman dan keripik juga bisa dibuat menjadi dodol, teh celup, permen jelly, kerupuk, selai, es krim, sirup dan yang lainnya,” terang Allan ketika ditemui dirumahnya, Jumat (15/02).

Diakui Allan, produk minuman kemasan yang diberi nama Nata De Aloevera penjualanya
baru bisa menyuplai daerah lokal. Dalam satu hari rata-rata dapat dibuat 300-500 minuman kemasan sudah langsung habis dalam waktu setengah hari.

“Saat ini memang belum melayani pesanan yang dari luar, karena masa kadaluarnya maksimal 4 hari, terkecuali mulai Bulan Maret 2019, karena ada pendampingan dari LIPI, akan dibuat masa kadaluarsanya 6-7 bulan, mungkin berani memasarkan keluar daerah,” ujarnya.

Bahkan usaha yang dirintisnya bersama masyarakat Jeruklegi juga mendapatkan perhatian atau dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Karena Tanaman Aloe Vera ini selain bisa dibuat industri makanan dan minuman sekaligus bisa sebagai wisata edukasi. Sehingga warga setempat mengembangkan tumbuhan lidah buaya yang tumbuh hampir di semua pekarangan untuk wisata edukasi minat khusus.
Saat ini setiap bulannya ada enam sampai tujuh instansi berkunjung ke sini, dari lokal disini, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.

“Wisatawan bisa melihat budidaya lidah buaya hingga belajar membuat minuman dan produk lainnya. Ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) pun bisa menjelaskan dengan baik mengenai tanaman lidah buaya,” pungkasnya.

Kepala Desa Katongan, Jumawan, yang baru menjabat 2,5 bulan menjabat berjanji, kedepannya tanaman lidah buaya tidak hanya dikembangkan di Dusun Jeruk Legi, tetapi juga 5-7 dusun lainnya.

“Tahun 2020 kami berjanji akan memprioritaskan potensi yang ada di desa kami seperti lidah buaya, karena dengan adanya wisata edukasi bisa meningkatkan perekonomian warga,” tukas Jumawan.

Dalam kesempatan itu, awak media diberikan kesempatan untuk melihat proses awal hingga sampai pengemasan minuman Nata De Aloevera.

(Joko)