Pathilo Produk Olahan Warga Gunungkidul Yang Menjadi Camilan Faforit Sampai Ke Luar Daerah.

Wonosari,Suaragunungkidul.com – Kendati hanya tinggal di pelosok desa, tampaknya tak menyurutkan semangat warga Kabupaten Gunungkidul, DIY dalam berwirausaha. Supel, tidak malu, ulet dan telaten, menjadi kunci suksesnya dalam dalam menggeluti dunia usaha yang awalnya merupakan rintisan nenek moyang puluhan tahun lalu itu.

Pathilo merupakan salah satu produk unggulan khas Gunungkidul sebanding dengan julukan kota gaplek yang disandang sejak puluhan tahun silam. Jangan salah, meskipun hanya terbuat dari bahan ketela, makanan ini sampai sekarang ternyata tetap masih jadi kegemaran para pejabat maupun perantau yang tersebar di kota – kota besar di Indonesia.

Hanya sekedar Pathilo, makanan ringan khas Gunungkidul berbahan dasar ketela yang sejak dulu hingga sekarang laris manis tetap menjadi salah satu camilan favorit masyarakat. Bahkan karena rasanya yang gurih, makanan itu seolah bisa menghadirkan suasana baru saat bersantai bersama keluarga, bak lazimnya Gunungkidul tempo dulu. Istilah Pathilo sendiri berasal dari Bahasa Jawa yaitu pathi (sari) dan telo (ketela).

Sebagai produk unggulan, makanan ini masih banyak dijumpai di zona selatan Gunungkidul meliputi Semanu, Tanjungsari, Tepus, Saptosari, Rongkop, Panggang, serta Girisubo. Namun sayang, produksi untuk musim hujan ini sangat berkurang lantaran terkendala sulitnya mencari bahan baku berupa ketela. Sulitnya bahan pada awal tahun ini dipengaruhi belum panennya tanaman jenis ini. Biasanya ketela pohon akan dipanen sekitar pertengahan tahun saat musim kemarau.

Selain Pathilo, ada juga produksi beberapa makanan kecil lainnya, seperti Krecek, Lempeng, serta Manggleng yang juga berbahan baku ketela dengan menyuguhkan aneka macam rasa baik pedas, manis maupun gurih. Jika sedang musim panen ketela, aneka makanan khas wong ndeso itu banyak dijumpai di pasar – pasar tradisional maupun di warung oleh – oleh khas Gunungkidul.(wawan)