Dewan Mempetanyakan ASN RSUD Wonosari Yang Berniat Mundur Dari PNS

Wonosari, Suaragunungkidul.com-Setelah menyoroti masalah indisipliner Aparatur Sipil Negara (ASN), terdapat ASN yang jarang masuk kantor dengan berbagai alasan, Dewan juga mempertanyakan sanksi, terkait fenomena keluarnya ASN RSUD Wonosari, yang telah melanjutkan pendidikan dengan biaya APBD, namun setelah selesai studi berniat mengundurkan diri dari PNS.

ASN yang indisipliner, Dewan minta Badan Kepegawaian Pendidikan Pelatihan Daerah (BKPPD) menertibkan ASN yang mangkir kerja dengan memberikan sanksi yang tegas sesuai tingkat pelanggarannya.

Terkait dengan ASN RSUD Wonosari yang diduga dr. E, akan mengundurkan diri dari PNS setelah studinya dibiayai dengan anggaran APBD, Ketua Komisi A, DPRD Kabupaten Gunungkidul, H. Sugiyarto, SH menyarankan untuk tidak serta merta langsung keluar dari PNS.

“Karena pada saat belajar dibiayai dari APBD, dengan maksud supaya setelah selesai studi bisa membantu Pemerintah Daerah,” ujar Sugiyarto, Jumat, (01/03).

Menurutnya, jika bertentangan dengan hati nurani seharusnya sebelum studi, dari awal yang bersangkutan bisa menolak. Jika menyangkut masalah kedisiplinan, inspektorat bisa menegur.

Sugiyarto juga menyarankan, jika sekiranya dr. E ada suatu masalah sebaiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu. Kemudian harus ada pembinaan dari inspektorat.

“Namun demikian, jika tidak bisa, yang bersangkutan tetap minta keluar, ya, kembalikan saja semua biaya yang digunakan untuk studi ke Pemda, supaya bisa dialehkan untuk dokter yang lain,” tutupnya.

Ditempat berbeda, Kepala BKPPD, Sigit Purwanto, ketika dikonfirmasi masalah indisipliner ASN dan fenomena akan mundurnya menjadi PNS dr. E, pihaknya belum mengetahui.

“Karena selama ini kita belum mendapatkan laporan,” ujarnya.

Menurutnya, biar masalah ini diselesaikan terlebih dahulu di intern RSUD Wonosari, jika nanti sudah mendapatkan laporan, pihaknya akan menindaklanjuti dan menyampaikan ke Bupati.

Sementara itu, Sumartono, S.KM MMR, Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari membenarkan jika ada ASN di RSUD, dr. E, yang akan mengundurkan diri dari PNS. Namun ia membantah jika dr. E, sudah keluar dari PNS, dan indisipliner sebagai pegawai negeri.

“Memang sempat 2 hari tidak melakukan aktivitas di RSUD, setelah yang bersangkutan mengajukan pengunduran diri, namun setelah ada saran dan masukan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sampai sekarang aktif kembali,”
terang Sumartono, sambil menunjukan buku absensinya, Jumat (01/02).

Diakuinya, pengunduran diri dr. E, pada tanggal 23 januari 2019. Niat itu, secara lisan sebelumnya sudah disampaikan kepada Direktur RSUD Wonosari.

“Alasannya, dia tidak cocok dengan birokrasi pemerintahan, maka mau keluar dari PNS,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, pada tanggal 30 Januari 2019, pihak RSUD memberikan surat pengantar ke Bupati, dengan tembusan ke BKPPD terkait pengunduran diri dokter penyakit dalam tersebut.

Setelah surat dikirim ke Bupati, pada awal bulan Pebruari 2019, pihak RSUD dipanggil Bupati dengan menghadirkan Assek III, Kabag Hukum, Kabag mutasi BKPPD, dan Kepala Dinas Kesehatan. Dari hasil koordinasi tersebut, kemungkinan kecil dr. E diperbolehkan keluar dari PNS. Karena terganjal dengan masa pengabdianya belum menenuhi syarat.

“Berdasarkan keterangan dari BKPPD terganjal setelah studi, harus 2 N +1, masa studi normatif 2 kali masa belajar aktif+ 1 tahun, baru bisa mengundurkan diri dari PNS,” jelasnya.

padahal, masih kata Sumartono, dr E studinya dari mulai tahun 2006 dan aktif kembali bulan April 2015.

“Makanya dimungkinkan tidak acc, karena masa pengabdiannya masih kurang, apalagi Gunungkidul tenaga dokter specialis secara umum juga terbatas,” tandasnya.

Namun demikian, tambahnya, pihak RSUD Wonosari sambil menunggu keputusan dari Bupati, secara internal telah memanggil yang bersangkutan melakukan pembinaan supaya tetap melakukan aktivitas kembali.

(Joko)