Mendapat Sertifikat Pelayanan Terbaik Ternyata RSUD Wonosari Masih Belum Profesional Melayani Pasien


Wonosari,Suaragunungkidul.com – Walaupun pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul berulang kali menyampaikan keberhasilannya dalam mengelola pemerintahan dan berbagai penghargaan di raih dalam bidang pelayanan publik termasuk RSUD Wonosari yang pernah mendapat penghargaan terbaik dalam bidang pelayanan publik ternyata hal itu tidak diikuti dengan kinerja yang baik para petugas medisnya.

Hal itu dapat dibuktikan dengan pelayanan yang dirasakan oleh warga pedukuhan Selang 1, Desa Selang Kecamatan Wonosari saat dirinya mengalami demam tinggi dan tak berdaya ia harus direpotkan dengan bolak – balik ke IGD rumah sakit Wonosari,lantaran tak puas dengan pelayanan RSUD terbesar di kota Wonosari akhirnya Ngadiyono memilih memeriksakan diri di RS Swasta.

Pria yang bekerja sebagai asisten Ketua DPRD Gunungkidul Dhemas Kursiswanto mengalami kejadian tidak mengenakan minggu,03/03/2019 dini hari dan juga 04/03/2019 beberapa hari lalu,saat itu kondisi Ngadiyono sangat lemah dan menderita panas sangat tinggi yang disertai sesak nafas oleh keluarganya lalu di bawa ke RSUD Wonosari namun sampai di IGD RSUD dirinya tidak ditangani hanya di cek dengan stestoskop dan pengukuran tensi darah,setelah itu dikasih obat paracetamol dan omephrazol untuk sakit perut.


“Dengan tubuh panas diatas 40 derajat saya di IGD hanya di cek dan tensi darah lalu di beri obat paracentamol dan omephrazol obat sakit perut,”Ujarnya saat ditemui wartawan.
Ngadiyono melanjutkan setelah dirinya diberi obat oleh pihak rumah sakit ia diperbolehkan pulang sedangkan kondisinya masih menggigil dan belum stabil walau kondisi tubuhnya panas,atas petunjuk dokter IGD setiap 4 jam ia harus meminum sebutir paracetamol untuk menurunkan panas,lantaran tidak kunjung turun panasnya maka Oleh keluarganya Ngadiyono kembali di bawa ke IGD RSUD Wonosari sekitar senin dini hari,akan tetapi dirinya kembali tidak mendapatkan perawatan.

“Lama saya terbaring lemah dan tidak mendapatkan perawatan dari dokter,karena terlalu lama maka saya komplain  kepada dokter intinya saya mau diobati atau tidak jika tidak saya mau pindah rumah sakit,”tambah Ngadiyono jengkel.

Menurut Ngadiyono yang membuatnya kecewa dan sakit hati adalah jawaban dari petugas rumah sakit di IGD,jawaban tersebut dirasakanya sangat tidak mengenakan hati,dan dalam keadaan sakit dirinya masih harus memendam amarah.
“Lha siapa yang menyuruh situ berobat ke sini ? Kalau dibawa ke sini tentunya ya kami obati,” ucapnya menirukan petugas IGD.

Setelah beberapa saat akhirnya oleh petugas lantas di cek darah di laboratorium,kemudian dikasih vitamin dan ambroxoll untuk obat batuk.
“Kembali saya di buat jengkel,sakit saya belum jelas tapi sudah diberi Ambroxoll untuk obat batuk?  inikan aneh,sakit saya aja belum ketahuan kok diberi obat,boro – boro di suruh rawat inap,sama sekali tidak dilakukan,”keluhnya.


Setelah membayar adminitrasi secara tunai akhirnya Ngadiono dibawa pulang oleh keluarga,akan tetapi karena kondisinya tidak berangsur membaik akhirnya Ngadiono kembali di bawa ke rumah sakit,namun kali ini Ngadiono enggan di bawa ke RSUD Wonosari ia memilih di RS. Nurohmah.


Setelah dirawat di RS.Nurohmah kini kondisi Ngadiyono berangsur menbaik dan sudah diketahui bahwa penyakit yang ia derita adalah thypus.


Sementara ibunda Ngadiyono,Suyati menambahkan sejak siang memang anaknya mengalami panas tinggi,maka biarpun masih dinihari keluarga nekad membawanya ke IGD RSUD Wonosari lantaran kondisinya yang terus memburuk harapanya agar segera mendapat penanganan medis secara tepat dan bisa sembuh.


“Yahh ternyata seperti cerita anak saya,berjam – jam hanya dibiarkan tergeletak tanpa penanganan medis,hanya di cek tidak di suntik apalagi di infus,hadil lab sana katanya hanya demam biasa di beri obat lantas di suruh pulang,” ujar Suyati.


Suyati menduga apabila pihak rumah sakit setengah hati dalam merawat anaknya lantaran penampilan anaknnya bertato seperti preman dan dikira akan menggunakan kartu jaminan seperti KIS atau BPJS.


“Pada hal sejak awal kita bayar tunai,dokter perempuan yang menangani juga bilang kalau untuk periksa harus bayar,ya jawab ya semua akan saya bayar tunai tanpa jaminan,” punkas Suyati.

Sampai berita ini viral di sosial media wartawan Suaragunungkidul.com terus berupaya untuk menghubungi pihak RSUD Wonosari akan tetapi masih belum ada yang mrmberi keterangan bahkan setiap tanya di petugas jaga selalu dijawab tidak berada ditempat.( wawan)