Labuhan Dilaksanakan sebagai Perwujudan Rasa Syukur terhadap Tuhan

3

Bantul, Suaragunungkidul.com-Bagian dari peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, selain menggelar acara labuhan
di Puncak Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta juga menggelar labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul, DIY, Sabtu, 06/04/2019.

Pelaksanaan tradisi labuhan Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan tradisi yang turun temurun dari semenjak Raja Mataram 1, Panembahan Senopati.

Tradisi labuhan dilaksanakan tidak hanya di Pantai Parangkusumo, namun juga di Gunung Merapi dan Gunung Lawu.

“Acara labuhan tersebut dilaksanakan sebagai perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan,” jelas Perwakilan dari Keraton Yogyakarta, KRT Wijoyo Pamungkas, di sela-sela acara labuhan di Parangkusumo, Sabtu, 06/04/2019.

Disebutkan, barang yang dilabuh bukan hasil bumi, namun barang-barang yang digunakan sultan. Barang-barang yang dilabuh berupa 3 ancak berisi bermacam-macam uborampe.

Selain itu juga dilabuh potongan rambut sultan, potongan kuku sultan dan layon sekar atau bunga yang sudah kering.

Wakil Penghageng Imogiri, Kanjeng Raden Tumenggung Rekso Suryo Hasmoro, mengatakan bahwa labuhan yang digelar adalah acara tahunan setiap tingalan jumenengandalem atau peringatan kenaikan tahta sang sultan.

Menurutnya, labuhan ini sudah berlangsung sejak zaman Panembahan Senopati. Tujuannya sedekah dari Sultan untuk kawula (warga) Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Setelah ubarampe/perabot kelengkapan ritual dilabuh kemudian diambil masyarakat, jadi niatnya itu Sultan melakukan shadaqoh kepada kawulonya,” pungkasnya.

(Joko)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.