Untuk Menjaga Ekosistem Sungai, Pemuda Pengkol Terapkan UU No 45 Tahun 2009

Nglipar, Suaragunungkidul.com-Minimnya pengetahuan dan penguasaan teknologi memaksa pemburu habitat di sungai menggunakan zat kimia untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan. Namun tanpa disadari selain ikan kecil akan habis, juga habitat yang lain akan punah. Oleh karena itu, dengan diprakarsai salah satu tokoh masyarakat Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Karangtaruna Desa Pengkol berupaya mengadakan kegiatan ramah lingkungan untuk menyelamatkan ekosistem di sungai lokal.

Mereka sadar bahwa sungai menjadi sumber kehidupan yang penting bagi kehidupan disepanjang aliran sungai. Selain itu, sungai bagi masyarakat lokal menjadikan sebagai urat nadi penghidupan mereka,.

Tak bisa disangkal bahwa kelangsungan sumber ekonomi pada saat musim kemarau untuk persawahan dan bercocok tanam dan untuk mendapatkan ikan bergantung pada sungai.

Andri Susilo, salah satu tokoh masyarakat Desa Pengkol

Untuk menjaga ekosistem habitat di sungai, Andri Susilo, salah seorang tokoh Pemuda Desa Pengkol, Nglipar, Minggu, 21/04/2019, mengajak para pemuda untuk menjaga dan melindungi ikan-ikan di sungai lokal.

“Upaya penyelamatan ekosistem sungai, kami bersama pemuda melaksanakan pemasangan tulisan larangan untuk tidak menangkap ikan dengan menggunakan bahan kimia,” terang Andri Susilo, Selasa siang, 23/04/2019.

Selain itu, lanjut dia, dilarang menangkap ikan menggunakan alat listrik seperti strum. Hal ini berdasarkan UU No. 45 tahun 2009, Pada pasal 84 ayat (1), intinya dilarang menangkap ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat/dan atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan/atau lingkungannya.

Dijelaskan Andri, lokasi yang di larang diantaranya di sungai-sungai Dusun Gagan, Dusun Kebonjero, Dusun Wungurejo, Dusun Pengkol dan Dusun Gebang, Desa Pengkol, Kecamaran Nglipar.

“Harapan kedepan agar masyarakat lebih hati-hati dalam berburu ikan di sungai agar tidak menggunakan alat dan bahan yg berbahaya bagi ekosistem.” masih terang Andri Susilo.

Ditambahkan, ia berharap Pemerintah Desa Pengkol bisa mendukung kegiatan ini, kedepan supaya dibuat Perdes tentang larangan menangkap ikan sesuai aturan UU No. 45 Tahun 2009.

“Masyarakat sudah memberi contoh, Pemdes Pengkol seharusnya juga mengerti, tidak tutup mata,” pungkasnya.

Sementara itu, Sigit Santoso, Ketua Karang Taruna Desa Pengkol, mengatakan bahwa
kegiatan ini menjadi aksi nyata masyarakat dan pemuda untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Semoga hal ini bisa berkelanjutan dan bisa menebarkan virus kebaikan di masyarakat luas agar lebih peduli lagi dengan lingkungannya,” ucapnya singkat.

(Joko)