Polisi Penggali Kubur, Ada Panggilan Hati untuk Pengabdian pada Masarakat

Playen, Suaragunungkidul.com-Matahari baru saja terbit, dalam kesendiriannya, Antonius Hendriyanto terusik oleh panggilan hati untuk pengapdian pada masarakat dalam bentuk membuatkan liang lahat (penggali kubur), walaupun tidak pernah mendapatkan upah atau penghasilan, namun semua itu bentuk pengabdian untuk sesama manusia.

Brigadir Antonius Hendriyanto, sejak masih duduk di bangku SMK, sekitar tahun 2003 sudah seringkali membantu sesama sebagai penggali kubur.

Panggilan hati ini masih terus dilakukan walaupun dirinya sudah menjadi Abdi negara menjadi seorang polisi, dan ditugaskan di Polsek Playen.

Ia tidak canggung dan malu berjalan ke arah makam di wilayah Gading II, Playen sambil memikul cangkul di pundaknya ketika ada warga yang meninggal dunia.

Pada saat menggali kubur bersama warga lain, Bhabinkamtibmas Desa Bandung, Playen ini sesekali berhenti, berdiri tegak sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaosnya.

Bagi dia membantu menjadi penggali kubur adalah profesi mulia. Dia bisa membantu banyak orang yang sedang bersedih, juga membantu mereka dengan doa. Dari menggali kubur ini, ia bisa belajar banyak, sehebat apapun seseorang dia akan kembali ke liang lahat.

Pria yang beralamat di Dusun Gading II, RT 08/RW02, Desa Gading Kecamatan Playen ini menceritakan keanehan selama menjadi penggali kubur.

“Ya ketika mau ada orang meninggal yang mau di kubur, di tempat saya gali biasanya ada suara seperti dentuman,” ujar Antonius, Senin, 24/06/2019.

Dia juga menambahkan, suka dukanya selama menjadi penggali kubur disela-sela tugasnya sebagai abdi negara.

“Sukanya ketika kita bisa membantu sesama, itu rasanya di hati damai,
dukanya ketika pembuatan liang lahat pada saat musim penghujan, ya harus bermandikan lumpur dan air di liang lahat tersebut,” pungkasnya.

(Joko)