Revisi Kuota Prestasi Proses PPDB Maksimal 15%, DIY tidak Menerapkan

Wonosari, Suaragunungkidul.com–Kementrian Pendidikan mengeluarkan Surat Edaran (SE) lantaran adanya Instruksi Presiden (Inpres) dengan adanya penambahan revisi kuota prestasi dalam proses PPDB maskimal 15%. Untuk tahun ini Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak menerapkan kuota tambahan untuk prestasi sebesar 15%. Karena jika kuota prestasi ditambah hingga maksimal 15%, semua aturan zonasi bisa berubah.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul, Sangkin mengatakan pihaknya hanya mengikuti, sesuai intruksi Sultan yang sudah dilakukan di tahun kemarin.

“Nanti tahun depan mungkin baru bisa dievaluasi,” jelas Sangkin, Selasa, 25/06/2019.

Sementara itu, panitia PPBD SMA 1 Wonosari, Sriyanta mengaku, sejak berhembusnya kabar penambahan kuota prestasi pada proses PPDB, wali siswa banyak yang cemas.

“Sejak pertama kemarin banyak sekali yang bertanya kepada panitia dari luar zona satu, kami jawab bahwa memang benar menteri memberikan surat edaran yang demikian, namun surat edaran tidak langsung kepada kami tentu saja ada instansi dibawah kementrian yang bisa mengkaji apakah relevan atau tidak diterapkan sesuai kondisi wilayah masing-masing,” jelas dia.

Banyaknya wali dan siswa yang tidak memahami pertimbangan diterima atau tidaknya seorang siswa di sekolah pilihannya, juga menjadi permasalahan.

Untuk menjelaskan permasalahan tersebut panitia PPDB SMA 1 Wonosari sampai memberikan sosialisasi kepada orang tua calon siswa SMA 1 Wonosari.

Ia mencontohkan, calon siswa yang telah menjadikan SMA 1 Wonosari pilihan pertama untuk kelas IPA sedangkan pilihan kedua kelas IPS untuk pilihan ketiga kelas bahasa. Belum tentu secara otomatis jika tidak terdaftar pada pilihan pertama akan turun ke pilihan ke dua dan ketiga. Menurutnya, sistem akan secara otomatis menyaring data dengan menyesuaikan kuota. Apabila kuota sudah terpenuhi, maka siswa yang menjadikan pilihan pertama kedua justru dilempar ke sekolah lain yang masih memiliki kuota kurang.

Hal ini belum secara gamblang dipahami oleh orang tua siswa dan siswa. Jika tidak teliti memantau siswa justru bisa terdaftar secara otomatis melalui sistem ke sekolah yang bukan merupakan sekolah pilihan.

Ia meminta untuk terus dipantau karena siswa yang mendaftar kemarin, Senin (24/06/2019 dan hari ini, Selasa, 25/06/2019 paling terakhir merubah data.

Yang perlu dipantau adalah secara detail pergerakan siswa apakah bobotnya masih dalam rangking aman atau tidak.

“Jika sudah tidak aman, silakan sebelum nanti malam sudah bisa dirubah jangan sampai siswa justru bersekolah di sekolah yang tidak diinginkan dan tidak dijadikan pilihan,” pungkasnya.

(Joko)