Menegakkan Salat Istiska, Mendoa Curah Hujan

100

Kalimantan Tengah, Suaragunungkidul.com – Kemarau masih mencekat. Kabut asap masih pekat. Kering, suram, muram membalut cuaca. Rindu curah hujan memberat. Manusia, hewan, tumbuhan, dan siapa pun yang punya rasa mendamba guyuran air dari langit yang mampu menyirnakan kabut asap dan membasuh semesta kembali cerah.

Salat istiska pun ditegakkan sebagai wujud gelegak harapan dan doa. Rabu, 18 September 2019 lewat pukul 07.00, di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Jalan G.Obos, Palangka Raya salat sunat minta hujan itu pun digelar. Ratusan jemaah dari beragam elemen dari warga masyarakat hingga pejabat membentuk saf rapi di atas karpet dan sajadah warna-warni. Dua rakaat menegak, tujuh takbir rakaat pertama menggema. Lima takbir rakaat kedua mengumandang. Doa khusuk merasuk diaminkan dalam tadah tangan yang memohon. Mohon ampun atas segala salah, khilaf, dosa, dan sia-sia. Pinta dikata, semoga curah hujan diturunkan, asap disirnakan, langit cerah dikembalikan. Doa dipanjatkan, yakin dikabulkan.

Sang khatib, Dr.H. Khairil Anwar, M.Ag., di mimbar terbuka mengurai khotbah, menjabar tausiah. Ada kisah, ada nasihat menggiring para jamaah untuk insaf dan bertaubat. Semua diajak menarik pelajaran dari kemarau panjang yang belum berkesudahan.

“Musibah kemarau panjang pernah terjadi pada zaman nabi Yusuf AS selama tujuh tahun lamanya. Tentu, tak sebanding dengan kemarau yang hanya satu dua bulan yang kita alami. Ternyata, betapa lemah kita. Baru beberapa waktu dilanda kemarau, kita sudah terpapar dan lemah. Kesehatan kita menurun, aktivitas pendidikan, olahraga, ekonomi, dan transportasi pun terhambat.”

“Musibah kemarau panjang menimbulkan dampak yang melebar dan melemahkan. Kerusakan lahan dan hutan telah merusak alam dan merugikan kita. Kerusakan ini jelas merupakan akibat kelalaian, kesalahan dan dosa kita “

‘Mari introspeksi. Tinggalkan perilaku salah dan perbuatan dosa. Mari bermuhasabah. Banyak perilaku keliru kita. Kita banyak menebar salah. Kemarau berpekat asap ini bisa jadi cobaan sekaligus peringatan dari Allah SWT untuk kita semua.”

“Kabut asap hanya sebagian musibah kecil dari ulah kita. Jika kita tetap berbuat sia-sia dan dosa, kelak ada azab yang jauh lebih dahsyat di alam kubur dan alam akhirat.”

“Mari kita pelihara kelestarian alam. Jangan membakar hutan lahan, dan apa saja secara sembarangan. Jangan membuang sampah sembarang. Sungguh Itu termasuk dosa. Melakukan pembiaran terhadap perilaku salah dan sembarangan juga termasuk dosa.”

Mari jaga kelestarian dan keseimbangan alam. Mari meniti jalan yang diridai Allah SWT. Bersegeralah kita memasuki pintu taubat. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan menurunkan hujan. Hujan yang membersihkan dan mencerahkan serta membirukan kembali langit Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dan Indonesia. Hujan yang membasuh dan menjernihkan hati kita untuk kembali bersih dengan berinstropeksi dan mendekatkan diri kepada Ilahi. Aamiin. ( Red/L.J)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.