Atasi Kesulitan Air Bersih, Warga Gedangsari Kembangkan Sumur Gali

Gedangsari, (Suaragunungkidul.com)-Bencana kekeringan akibat kemarau panjang, membuat hampir seluruh Kecamatan di Gunungkidul mengalami kesulitan air bersih. Sebagian masyarakat selain mengandalkan droping air bersih , juga merusaha untuk mengembangkan sumur gali.

Seperti di Kecamatan Gedangsari, karena sumur bor tidak bisa dipastikan bisa keluar air, maka sumur gali lah menjadi solusinya.

Suyitno, salah satu warga Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari mengungkapkan, sumur gali memang saat ini sedang digalakan. Lantaran sumur bor banyak yang mengalami kegagalan.

“Ada beberapa sumur bor yang tadinya keluar air bisa mencukupi beberapa keluarga, namun saat ini airnya habis, sehingga masyarakat banyak yang membuat sumur gali,” ujarnya, Sabtu, 12/10/2019.

Diakui Suyitno, untuk Desa Mertelu masalah kekeringan saat ini lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Alasanya ada beberapa titik yang saat ini hanya mengandalkan bantuan air bersih.

“Seperti Dusun Batur Turu, Krinjing paling atas, Guyangan Kidul paling barat, Mertelu RT 04 dan Dusun Piji RT 05, daerah ini oleh BPBD masuk zona merah, yang benar-benar krisis air bersih, masyarakat hanya mengandalkan droping air bersih,” ungkapnya.

Sungai-sungai mengering, warga banyak menggali sumur di sungai yang paling bawah, itu saja susah airnya.

Ditempat berbeda, Camat Gedangsari, Martono Iman Santosa mengungkapkan, di Wilayah Gedangsari masalah kekurangan air bersih, sama dengan di wilayah lain di Gunungkidul.

“Dari tujuh desa di Kecamatan Gedangsari, kekurangan air bersih memang iya, tetapi kalau susah banget ya tidak,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, di titik tertentu masih ada airnya, seperti Desa Mertelu disaat musim kemarau ada yang bisa panen raya jagung, artinya disana masih ada air untuk menyirami tanaman.

Tidak semua wilayahnya mengalami kesulitan air bersih, ada di beberapa wilayah yang sudah tercukupi.

Diakui, tidak sumua wilayah di Gedangsari ini bisa diselesaikan dengan sumur bor, ternyata dengan sumur gali lebih bisa memberikan solusi.

“Karena bayangan orang kalau semakin dalam semakin banyak airnya, ternyata tidak, sehingga solusinya di tempat-tempat tertentu dikembangkan sumur gali, dan dengan kedalaman 6 meter sampai 10 meter air sudah melimpah,” jelasnya.

Sehingga, tambahnya, Sumur gali ini dikembangkan dengan swadaya masyarakat dan merangkul pihak swasta yang peduli.
(Joko N)