Mengenal Lebih Dekat Dengan Pakar Hukum Tata Negara Dari Gunungkidul

560

Wonosari, (suaragunungkidul.com)–Sosok Kolonel Inf.Dr, H.Tugiman, SH.M.Si, masih cukup asing di telinga masyarakat Gunungkidul. Namun tidak demikian dengan masyarakat Provinsi Jawa Barat. Praktisi sekaligus pengamat Hukum Tata Negara ini justru sangat dikenal oleh warga Provinsi Jawa Barat karena kiprahnya.

Lalu siapa sebenarnya Kolonel Inf. Dr. H.Tugiman, SH.M.Si, yang dilahirkan 56 tahun lalu ini? Belakangan anggota TNI yang mempunyai gelar akademik cukup panjang ini telah rajin memperkenalkan diri kepada masyarakat Gunungkidul.

Ternyata Tugiman adalah salah satu putra daerah terbaik di Kabupaten Gunungkidul. Diketahui Tugiman lahir di Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar pasa 02 Januari 1963.

Pengamat Sosial Politik sekaligus Dosen Program Pasca Sarjana Universitas Pasundan Bandung ini juga aktif mengikuti berbagai organisasi.

Salah satu diantaranya adalah Kepala Bidanh Organisasi Komite Olahraha Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Barat. Namun sebelum menjabat sebagai Kabid Organisasi ia menjabat Kabid Hukum Koni Provinsi Jawa barat. Selain itu jabatan mentereng di kalangan progesional olahraga ia juga menjabat sebagai Ketua Tim Advokasi Kontingen Jawa Barat pada PON 2016.

Pengamat Hukum Tata Negara Universitas Pasundan Bandung ini juga aktif berprofesi sebagai parajurit TNI Angkatan Darat dengan Pangkat Kolonel Inf. dan bertugas di Mabes TNI.

Selain tugas sebagai prajurit TNI, beberapa kegiatan lain juga ia dijalani dan yang tak kalah membanggakan di Kesatuan TNI, Tugiman telah. menciptakan “Hymne Bela Negara atau Mars Bela Negara”, yang sampai saat ini selalu tersirat di hati prajurit TNI.

Tak heran jika, Alumni SMA Muhammadiyah Wonosari ini sering diundang sebagai Narasumber di berbagai kegiatan Ilmiah. Diantaranya kegiatan seminar, dialog, sarasehan dan lain-lain, baik Nasional maupun lokal.

Ketika pulang ke Gunungkidul Kolonel Inf Tugiman mengomentari kemajuan pembangunan Bumi Handayani. Alumnus Hukum Universitas Padjajaran ini menilai bahwa Kabupaten Gunungkidul berbeda jauh dengan kondisi saat dia masih menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah Wonosari tahun 1982 lalu.

Menurut dia, walaupun sumber daya alam (SDA) terbatas tetapi sumber daya manusia (SDM) Gunungkidul sangat luar biasa, mempunyai semangat gotong royong yang sangat tinggi.

“Pendidikan sangat penting karena mampu merubah barbagai hal bisa menjadi lebih baik ataupun lebih buruk,” ujarnya saat berbicang dengan wartawan suaragunungkidul.com (07/12/2019)

Pembangunan infrastruktur merupakan pintu menuju kemajuan ekonomi, termasuk potensi wisata. Memanajemen potensi wisata perlu diperjelas, sehingga outputnya terukur, supaya endingnya dikenal secara lintas negara. Dia memaparkan, membangun Gunungkidul tidak boleh meninggalkan komunikasi dengan pihak ke tiga yaitu investor.

“Insfraktrutur penting sebagai pintu masuk kemajuan ekonomi, begitu juga pariwisata untuk itu managemenya harus jelas, endingnya bisa dikenal lintas negara. Komunikasi harus terus dibangun terutama dengan pihak ke tiga investor,” pungkas dia.

(Wawan)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.