Dianggap Lakukan Tipu Daya Kepada Nasabah, Bank BRI Digugat

168

Wonosari,(suaragunungkidul.com)–PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Wonosari digugat oleh Bukir (63) warga Padukuhan Gembuk, Desa Getas, Kecamatan Playen. Gugatan tersebut dilakukan lantaran Bank BRI dianggap melakukan tipu daya kepada salah satu penggugat yakni Bukir.

Kuasa hukum penggugat Sri Kalono SH menjelaskan bahwa, pada tahun 2011 lalu Penggugat yakni Bukir mengagunkan sejumlah 3 Sertifikat Hak Milik (SHM) kepada kepada pihak Bank untuk mendapatkan fasilitas kredit (pinjaman). Pihak Bank kemudian memberikan fasilitas pinjaman sejumlah Rp 180 juta dengan periode pinjaman tanggal 26 Juni 2011 sampai dengan 23 April 2019.

“Semula klien kami lancar membayar angsuran dan sebagian pokok. Namun karena adanya suatu perkembangan situasi dan kondisi yang tidak mendukung akhirnya dalam siuasi sulit secara ekonomi dan mengalami kerugian, sehingga pak Bukir tidak dapat memenuhi kewajiban kepada pihak Bank,”ujar Kalono ditemui usai mendamingi persidangan di PN Wonosari.

Namun demikian klien kami menyatakan tidak akan lari dari tanggung jawab dan tetap terus berusaha agar dapat memenuhi kewajibannya memenuhi kewajiban kepada pihak Bank. Lanju Kalono pada tahun 2018 kliennya (Bukir) dan isterinya didatangi oleh Petugas Bank meminta tanda tangan dengan alasan sebagai bukti kunjungan Petugas tersebut di rumahnya.

“Karena kepandaian Petugas tersebut dan keterbelakangan pendidikan┬áklien kami akhirnya membubuhkan tanda tangan. Kami menduga karena tangan tangan tersebut kemudian pada tanggal 14 Agustuts 2018 bapak Bukir mendapatkan surat No. B.272/KC/VII/ADK/08/2018 perihal Pemberitahuan Lelang Agunan Kredit, salah satu diantaranya adalah obyek gugatan dengan limit harga Rp. 80.000.000, (delapan puluh juta rupiah),”imbuh Kalono sambil memperlihatkan materi gugatan.

Pada gugatan tersebut Kalono menjelaskan bahwa mendasarkan salah satunya adalah Pasal 176 KHI (Kompilasi Hukum Islam) yakni
ÔÇťAnak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan.

“Tergugat dalam hal ini pihak Bank mengabaikan salah satu ahli waris yang tidak dimintai persetujuan lelang. Selain itu untuk memperoleh tanda tangan persetujuan lelang petugas dari Bank melakukan tipu daga kepada klien kami dengan memanfaatkan keterbelakangan pendidikan hal itu merupakan salah satu bentuk penipuan atau tipu daya sehingga termasuk perbuatan melawan hukum,”tandasnya

(Redaksi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.