Dinilai Tak Memberi Solusi, Pembangunan Kios Desa Beji Munculkan Polemik

86

Patuk,(suaragunungkidul.com) – Nasib para pedagang buah di jalan Jogja -Wonosari tepatnya di Padukuhan Kerjan Desa Beji Kecamatan Patuk tak menentu, pasalnya para pedagang yang sehari – hari berdagang diwilayah tersebut dipaksa membongkar lapaknya dengan segera oleh pemerintah Desa Beji karena akan dibangun kios.

Akibat pembongkaran lapak yang sehari – hari digunakan para pedagang untuk mengais rezeki memunculkan masalah karena para pedagang hanya diminta membongkar lapak namun tak diberikan tempat sementara untuk menggelar daganganya sehingga para pedagang mempertanyakan tanggung jawab pemerintah desa, karena menurut para pedagang mereka menempati lokasi tersebut juga atas izin dan rekomendasi pemerintah desa setempat.

Hal tersebut seperti diungkapkan salah satu pedagang yang namanya enggan di publikasikan, menurutnya waktu yang diberikan cukup singkat hanya dua hari sementara dagangan mereka masih banyak dan bila harus disimpan pasti akan rusak, dan para pedagang akan merugi.

“Kami hanya diberi batas waktu dua hari untuk membongkar lapak kami yang berada di depan pembangunan kios, sementara pemdes tidak memberi solusi sementara buat kami untuk menggelar dagangan, mereka hanya menyuruh menyimpan atau digrosirkan dagangan yang masih ada sambil menunggu selesainya pembanggunan kios, pada hal saat ini kios tersebut masih mangkrak,” ujar salah seorang pedagang yang tidak mau menyebutkan nama saat ditemui Kamis,(20/2/2020).

Sementara Kepala Desa Beji, Edi Sutrisno saat dikonfirmasi terkait masalah tersebut, melalui Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra) Rosyid, menjelaskan bahwa pemerintah desa telah mengeluarkan surat kepada para pedagang tiga minggu sebelum batas waktu pembongkaran lapak yang berada ditanah kas desa, Rosyid juga menegaskan sudah melakukan sosialisasi dengan mengundang para pedagang ke Balai Desa Beji jauh sebelum akan dilakukan pembangunan kios.

“Kami jauh – jauh hari sudah sosialisasi dengan mengundang para pedagang, karena harapan kami setelah semua tertata dan pembangunan kios selesai bisa menambah PAD, juga tidak semrawut lagi,” Ujarnya.

Hingga saat ini pembongkaran lapak pedagang buah belum semuanya rampung hanya beberapa yang sudah membongkar lapaknya, sementara pemilik lapak yang lain masih bertahan sambil menunggu solusi dari pemerintah desa agar para pedagang bisa menggelar daganganya sambil menunggu pembangunan kios selesai.

(Wahyu)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.